Minggu, 19 Agustus 2012

Bantahan Terhadap Pluralisme Agama Oleh: Ustadz Abu Luqman Abdullah ( Mudir Ma'had Darul Atsar Temanggung )


Pembaca yang budiman, dewasa ini muncul banyak pertanyaan di kalangan umat Islam tentang pluralisme agama. Sebenarnya teori ini sudah lama muncul, hanya saja saat ini pluralisme agama menjelma menjadi sebuah paham yang begitu cepat menyebar dan semakin populer di semua lapisan masyarakat. Terlebih lagi, banyak orang yang dianggap sebagai cendekiawan muslim secara terang-terangan membenarkan dan menyeru kepada teori tersebut. Sampai-sampai sebagian dari mereka mendapat predikat sebagai bapak pluralisme agama. Ditambah lagi, munculnya ide gila untuk mencetak Al-Qur`an, Injil dan Taurat dalam satu buku. Bahkan, proyek pembauran agama ini sampai pada ide pembangunan masjid, gereja, sinagog, dan tempat ibadah lain dalam satu lokasi, baik di kampus-kampus, bandara, atau tempat umum lainnya. Semua fenomena ini membuat masyarakat semakin larut dalam kebingungan, sejauh mana kebenaran slogan-slogan konsep pemikiran ini dan bagaimana penilaian Islam terhadap hal ini? Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Rangkaian Sejarah Munculnya Teori Pluralisme Beragama Dan Beberapa Analisis Kejadiannya
Jikalau ditelusuri lebih jauh dalam peta sejarah peradaban agama-agama dunia, maka virus pluralisme agama ini muncul dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Teori ini termasuk teori lama jika ditinjau dari slogan-slogannya yang berupaya mengeluarkan kaum muslimin dari identitas keislamannya dan menggiring mereka kepada kemurtadan. Dengan menelusuri fase-fase sejarahnya, maka kita akan mendapatkan bahwa teori ini telah berjalan pada empat periode zaman, yaitu sebagai berikut :
1. Periode zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah subhanahu wa ta’ala telah menerangkan dalam Al-Qur`an bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen senantiasa berusaha menjauhkan kaum muslimin dari keislamannya dan mengajak mereka kepada kekufuran. Allah ta’ala berfirman:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٠٩)
 “Banyak dari Ahli Kitab yang menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman disebabkan oleh dengki dari dalam diri mereka setelah nyata bagi mereka kebenaran.” [QS Al-Baqoroh:109].
Upaya mereka ini meredup dalam beberapa kurun waktu hingga berakhirnya abad kemuliaan Islam (tiga generasi utama).
2. Periode setelah berlalunya kemuliaan Islam (tiga generasi utama)
Usaha mereka muncul kembali di bawah slogan yang mereka buat untuk menipu kaum muslimin. Yaitu, bahwasanya agama Yahudi, Nasrani, dan Islam ibarat madzhab-madzhab fikih yang empat yang dimiliki oleh Islam, semuanya mengantar kepada jalan Allah ta’ala. Kemudian dilanjutkan oleh para penyeru paham wihdatul wujud (paham yang meyakini bahwa seluruh zat di alam ini hakekatnya hanyalah satu). Hal ini begitu kental mewarnai pemikiran para filosof. Dan Syaikhul Islam telah menyingkap kedok mereka dalam berbagai karya tulisnya.
3. Periode pertengahan abad ke-14
Seruan ini sesaat sempat mereda. Namun, pemikiran ini tetap bercokol di dalam dada penganutnya yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Sampai, pemikiran ini diadopsi oleh gerakan ‘Sun Moon Monotheism’ dan sebelumnya ‘Freemansory’, yaitu organisasi Yahudi untuk menguasai dunia dan menyebarkan atheisme serta ideologi kebebasan. Mereka menyerukan untuk menyatukan tiga agama samawi dan membuang fanatisme dengan dasar persamaan iman kepada Allah.
4. Periode masa kini
Pada seperempat terakhir abad 14 Hijriah sampai sekarang, orang-orang Yahudi dan Nasrani secara terang-terangan mengajak kepada persatuan agama dengan berbagai macam slogan, seperti persatuan pengikut Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; pendekatan lintas agama; menentang fanatisme agama; solidaritas Islam dan Kristen dalam menentang komunisme atau slogan-slogan yang lainnya. (Selengkapnya bisa dilihat dalam kitab Al-Ibthal li Nazhariyatil Khalth baina Dinil Islam wa Ghairiha minal Adyan karya Bakr bin Abdullah Abu Zaid)
Demikian sekilas fakta sejarah tentang munculnya teori pluralisme dan perkembangannya  dalam masing-masing periode. Pembaca yang budiman, dengan mencermati kenyataan sejarah munculnya teori ini, kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa teori penyatuan agama ini pada hakekatnya diadopsi dari pemikiran orang Yahudi dan Nasrani. Sungguh ini mengingatkan kita akan sebuah untaian nasehat yang disampaikan oleh Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian.”
Jika realita sejarah ini sudah cukup untuk menunjukkan batilnya teori ini, lalu bagaimana kiranya jika teori ini bertentangan dengan Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama?!

Ayat-Ayat Al-Qur`an Yang Menunjukkan Batilnya Pluralisme Beragama
Pembaca yang budiman, selanjutnya kita beralih kepada beberapa argumen ilmiah yang menunjukkan batilnya teori ini menurut Al-Qur`an, di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Larangan mencampur-adukkan antara kebenaran dengan kebatilan. Allah I berfirman
وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٤٢)
 “Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, dalam keadaan kalian mengetahui.” [Q.S. Al-Baqarah:42].
Ibnu Jarir Ath-Thabary dalam tafsirnya menukilkan ucapan Mujahid terkait dengan ayat di atas, “Janganlah kalian campur adukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan Islam.”
Hal senada juga disebutkan oleh Qotadah sebagaimana tersebut dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau mengatakan, “Jangan kalian campur-adukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan Islam. Sesungguhnya agama Allah adalah Islam sedangkan agama Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah (agama yang dibuat-buat) dan bukan berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.”
  • Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun agama selainnya adalah batil dan tertolak
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [Q.S. Ali-‘Imran:19].
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥)
 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran:85].
  • Kaum muslimin diperintahkan untuk berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberi petunjuk kepada jalan yang lurus dan diselamatkan dari jalan orang-orang yang dimurkai Allah -yaitu kaum Yahudi- dan orang-orang yang sesat -yaitu kaum Nasrani-. Sebagaimana hal ini tersirat dalam surat Al-Fatihah yang dibaca pada setiap shalat:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)
 “Tunjukilah Kami ke jalan yang lurus.*. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [QS Al-Fatihah:6-7]
As-Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya, “Orang-orang yang dimurkai adalah mereka yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya seperti orang-orang Yahudi dan semisalnya. Adapun orang-orang yang sesat adalah mereka yang meninggalkan kebenaran karena bodoh dan sesat, seperti orang-orang Nasrani dan yang semisalnya.”
  • Jalan kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya ada satu, bukan kebenaran relatif yang bisa diakui oleh semua pihak sebagaimana diyakini oleh JIL dan para pengikutnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣)
 “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah satu jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” [QS Al-An’am : 153]
Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kata ‘jalan-Nya’ (صِرَاطِي) dalam bentuk tunggal karena kebenaran hanya ada satu.”

Dampak Negatif Pluralisme Beragama
Pembaca yang budiman, teori ini sangat berbahaya karena akan meruntuhkan sendi-sendi ajaran Islam dan memberikan konsekuensi berupa hilangnya perbedaan antara Islam dan kekafiran, kebenaran dan kebatilan, runtuhnya amar ma’ruf nahi munkar, menghancurkan prinsip wala` (mencintai kaum mukminin dan loyal terhadap mereka) dan bara` (antipati terhadap orang-orang kafir) sebagai pembatas antara kaum muslimin dan orang-orang kafir, serta tidak ada lagi jihad untuk meninggikan kalimat Allah di atas bumi.

Fatwa Ulama Tentang Hukum Pluralisme Agama Dan Penyerunya
Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta` (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) telah mengeluarkan fatwa terkait dengan permasalahan ini, yaitu fatwa nomor 19402, tertanggal 25 Muharrom 1418 Hijriah. Di antara butir fatwa yang disebutkan adalah sebagai berikut, “Berdasarkan semua dasar dan pokok akidah Islam yang telah disebutkan, maka jelaslah bahwa seruan kepada penyatuan agama dan pendekatan antaragama adalah seruan yang keji lagi menipu. Tujuannya adalah mencampur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, meruntuhkan Islam, menghancurkan sendi-sendinya, dan mengajak pengikutnya kepada kemurtadan secara total….”
Dalam butir yang lain disebutkan: “Seruan kepada penyatuan agama ini jika muncul dari seorang muslim maka ini jelas merupakan perbuatan kemurtadan dari agama Islam. Karena, perbuatan ini menentang dasar-dasar aqidah Islam, rela terhadap kekufuran kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengingkari kebenaran Al-Qur`an dan salah satu fungsinya sebagai penghapus kitab-kitab sebelumnya serta mengingkari agama Islam sebagai penghapus syariat dan agama sebelumnya. Berdasarkan hal ini, maka seruan kepada pluralisme agama adalah konsep kepercayaan yang tertolak dan dipastikan keharamannya berdasarkan seluruh landasan hukum Islam, baik Al-Qur`an, Sunnah maupun Ijma’ (kesepakatan para ulama).”
Maka hendaknya kaum muslimin jangan tertipu dengan keberadaan para ‘cendekiawan muslim’ liberal-sekuler yang ikut menjadi pengasong faham ini, meskipun mereka berupaya keras untuk menyebarkan paham ini dan mencari legitimasinya dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Namun ketahuilah bahwa Allah I telah menjamin kemurnian ajaran Islam yang mulia ini dengan keberadaan para ulama yang akan senantiasa menyebarkan kebenaran dan menumpas kebatilan.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)
“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya “ ( Qs: al-Hijr 9 )
Kita memohon kepada Allah  dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia agar melindungi kita semua dari pemikiran-pemikiran yang menyesatkan dan memberikan kita istiqomah (konsistensi) di atas Islam dan Iman. Allahu a’lam.

Sumber:  http://tashfiyah.net/2010/11/bantahan-terhadap-pluralisme-agama/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar